Sangkan Paraning Dumadi dalam Konsep ke-Islam-an

Oleh : Farid Dimyati *

Konsep hidup dalam filsafat jawa sudah ada sejak ratusan tahun silam, bahkan tidak diketahui sejak kapan pemikiran para filsuf jawa memaknai sebuah arti kehidupan. Sebelum islam datang ke tanah jawa, orang jawa memang sudah menganut kepercayaan monotheisme. Mereka beranggapan bahwa alam dunia dan seisinya merupakan sebuah karya cipta akan dzat yang tak dapat dicapai oleh kasat mata inderawi.

Konsep kepercayaan akan adanya sang pencipta inilah yang membuat orang jawa zaman dahulu bertanya-tanya tentang hakekat kehidupan yang sesungguhnya, bahwa memang dunia ini ada yang menciptakan dan mengaturnya. pada akhirnya mereka semakin terdorong untuk mengetahui sebenarnya siapakah dzat yang mengatur alam semesta ini, Suriasumantri (2003) menyatakan pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

Setelah melakukan pencarian akan hakekat hidup itulah, pada akhirnya masyarakat jawa jaman dahulu menemukan sebuah falsafah “sangkan paraning dumadi” yang secara garis besar artinya adalah dari manakah manusia datang dan ke mana tujuannya, ke manakah arah hidupnya, apa artinya hidup, untuk apa manusia hidup, bagaimana setelah manusia meninggal. Itulah beberapa pertanyaan setiap manusia yang mencari hakekat hidup sesungguhnya. Ajaran tersebut itulah yang sampai sekarang banyak diterapkan pada ajaran tasawuf/sufisme yang banyak berkembang di tanah jawa sejak kedatangan islam sampai sekarang.

Ajaran sangkan paraning dumadi secara maknawi tidak bertentangan dengan ajaran islam, bahkan hal tersebut disebutkan sangat jelas di dalam Al Quran Suroh Al An’am ayat 162 tentang ke-tauhid-an seorang hamba akan hakekat hidup harus bersandar hanya pada sang pencipta alam semesta yaitu Allah SWT, ayat tersebut berbunyi

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(qul, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin)

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” ( Q.S. Al An’am : 162).

Nampak nyata bahwa hakekat hidup seorang manusia tidak dapat terlepas dari arti sangkan paraning dumadi, bahwa siapa aku?apa tujuan hidupku?apa artinya hidup? secara gamblang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya diatas, yang dimaknai bahwa hidup matinya seorang manusia semat-mata hanya untuk Allah azza wa jalla sang pemilik kerajaan langit dan bumi. Berdasarkan uraian diatas, bahwa konsep sangkan paraning dumadi memang sebenarnya termaktub di dalam ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sejak ribuan tahun silam, hanya saja karena konsep ke-bahasa-an yang berbeda inilah yang seringkali ada anggapan bahwa konsep filsafat jawa ini dianggap sebagai penyebab ke-tidakmurni-an ajaran islam yang sebenarnya.

* mantan mahasiswa nakal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s