Sampingan

Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 sebagai Upaya dalam

Menuju Kemandirian Pangan di Indonesia *

Oleh : Farid Dimyati **

Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 (PSDSK-2014) merupakan salah satu dari 21 program utama Departemen Pertanian terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik (Deptan, 2010: 1). Program nasional untuk swasembada daging sapi sebenarnya merupakan ketiga kalinya yang dicanangkan oleh pemerintah, namun program ini mengalami ketidakberhasilan, sehingga pada tahun 2010 pemerintah mencanangkan kembali program swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2014. Melalui kebijakan ini, ketergantungan atas impor sapi dan impor daging sapi diperkecil dengan meningkatkan potensi sapi dalam negeri. Sasarannya, pada tahun 2014 mendatang impor sapi dan daging sapi hanya 10 persen dari total kebutuhan konsumsi masyarakat.

Untuk mencapai sasaran program swasembada daging sapi dan kerbau pada tahun 2014, berbagai kebijakan dan program telah dicanangkan oleh pemerintah melalui lembaga yang menaunginya yaitu Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Program-program tersebut secara umum bertujuan untuk menambah populasi sapi dan produktivitas sapi, dengan mengembangkan potensi persapian Indonesia (nasional) yang sekarang ada.

Kebijakan penambahan populasi dan produktivitas sapi bertujuan untuk menambah kemampuan penyediaan (produksi) daging sapi nasional. Jumlah daging sapi yang harus disediakan, ditentukan oleh kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk secara nasional. Sementara kebutuhan konsumsi daging sapi nasional ditentukan oleh jumlah penduduk dan konsumsi daging sapi per kapita masyarakat Indonesia. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani, maka kebutuhan daging sapi nasional juga akan cenderung semakin meningkat (Dwiyanto, 2008).

Ketersediaan daging sapi, baik impor maupun lokal, sangat terkait dengan ketahanan pangan nasional. Ketersediaan daging sapi sama pentingnya dengan ketersediaan beras, gula, jagung, telur, unggas, kedelai dan sebagainya yang merupakan kebutuhan manusia yang paling asasi. Pada kondisi krisis dan kritis kebutuhan lain masih dapat ditunda, tetapi kebutuhan ini tidak bisa ditawar-tawar. Terpenuhinya kebutuhan daging sebagai bahan pangan bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, tetapi terkait dengan harkat dan martabat kemanusiaan kita dalam perspektif sosial. Lebih dari itu kebutuhan daging untuk memenuhi konsumsi protein hewani sangat terkait dengan kesehatan dan kecerdasan bangsa. Sulit rasanya membayangkan suatu bangsa akan maju dan berdiri tangguh jika tidak memiliki pijakan yang kuat dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan (Said, 2012).

Hasil sementara sensus ternak Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011 memperlihatkan bahwa ternak sapi potong cukup melimpah dimana jumlah sapi potong mencapai 14,43 juta, kerbau 1,27 juta, dan sapi perah 574 ribu ekor. Sehingga jumlah keseluruhan sekitar 16,3 juta ekor. Berdasarkan road map pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014, ditargetkan penyediaan daging sapi produksi lokal sebesar 420,3 ribu ton (90%) dan dari impor sapi bakalan setara daging dan impor daging sebesar 46,6 ribu ton (10%) (Blue Print P2SDS 2014). Berdasarkan data dari BPS tahun 2011 tersebut, maka swasembada daging tahun 2014 dapat terwujud.

Data populasi sapi dan kerbau yang terus meningkat dari tahun ke tahun harus selalu diimbangi dengan kinerja nyata dari beberapa program yang telah dicanangkan oleh pemerintah guna menunjang swasembada daging pada tahun 2014. Program penyelamatan sapi betina produktif harus benar-benar dijalankan, hal ini guna meningkatkan jumlah populasi dimasa yang akan datang, dimana ketika jumlah populasi semakin meningkat dari tahun ke tahun maka secara otomatis ketersediaan daging akan mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Walaupun sudah ada undang-undang yang melarang pemotongan sapi betina produktif, fakta di lapangan menunjukkan kasus tersebut masih banyak terjadi. Sekitar 200.000 ekor sapi betina produktif dipotong setiap tahunnya. Ketika melihat data yang ada memang hal ini menjadi sebuah ancaman serius, namun jika 200.000 ekor sapi betina produktif tersebut dapat diselamatkan maka akan diperoleh tambahan anak 147.000 ekor/ tahun atau menambah produksi daging 14.700 t/tahun bila satu ekor sapi setara dengan 100 kg daging. Dengan target swasembada 400.000 ton daging maka pelarangan pemotongan sapi betina produktif akan mendukung pasokan daging 3,68%. Oleh karena itu, kebijakan penyelamatan betina produktif dipandang tepat (Priyanto, 2011).

Selain program penyelamatan sapi betina produktif, pemetaan wilayah pengembangan usaha (sumber pertumbuhan baru) dengan pola pembibitan maupun penggemukan diperlukan untuk mendukung peningkatan populasi ternak. Usaha pembibitan disesuaikan dengan daya dukung padang penggembalaan. Wilayah yang potensial untuk pengembangan usaha pembibitan adalah Nusa Tenggara Timur (746.660,33 ha), Kalimantan Timur (726.798,52 ha), Nanggroe Aceh Darussalam (382.736,15 ha), Kalimantan Selatan (294.098,95 ha), Sulawesi Selatan (157.460,39 ha), dan Sulawesi Tengah (154.126 ha) yang memiliki area padang rumput terluas (Ditjenak, 2008). Pengembangan dan pemanfaatan padang penggembalaan merupakan alternatif pendukung mempercepat pencapaian swasembada daging sapi, khususnya pembibitan yang dikelola oleh masyarakat (pemeliharaan secara ekstensif). Meles (2009) menyatakan, pengembangan sapi potong perlu mempertimbangkan potensi sumber daya yang dimiliki daerah, seperti area penggembalaan atau area pertanian, populasi ternak, sumber daya manusia, teknologi tepat guna, sarana pendukung, dan potensi pasar.

Melihat beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah seperti upaya dalam penyelamatan sapi betina produktif yang terus dijalankan dan pengembangan sentra-sentra peternakan sapi potong di daerah-daerah yang potensial, maka tidak mustahil jika program swasembada daging sapi dan kerbau akan terwujud pada tahun 2014. Ketika swasembada daging terwujud maka kemandirian pangan hewani asal ternak akan terwujud pula.

*) diikutkan dalam lomba essai nasional UNPAD November 2013

**) Mahasiswa S1 Jurusan Peternakan di Fakultas Peternakan Unsoed

Daftar Rujukan

Deptan (Departemen Pertanian). 2010. Blue Print Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014. Departemen Pertanian Republik Indonesia. 122 hlm.

Said, S. 2012. Peningkatan Populasi dan Mutu Genetik Ternak Indonesia Melalui Aplikasi Bioteknologi Reproduksi dalam Rangka Mendorong Percepatan Swasembada Daging dan Susu Nasional. Pusat Penelitian Bioteknologi – LIPI.

Dwiyanto, K. 2008. Pemanfaatan Sumber Daya Lokal dan Inovasi Teknologi  dalam Mendukung Pengembangan Sapi Potong di Indonesia. Pengembangan Inovasi Pertanian. I(3), 2008: 173-188.

Blue Print Program Percepatan Swasembada Daging Sapi 2014. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI.

Priyanto, Dwi. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong dalam Mendukung Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014. Balai Penelitian Ternak Bogor.

Ditjennak (Direktorat Jenderal Peternakan). 2008. Statistik Peternakan. Ditjennak, Jakarta.

Meles, W. 2009. Strategi Pencapaian Swasembada Daging Sapi Melalui Penanganan Gangguan Reproduksi dan Pemanfaatan Limbah Pertanian. Econ. Rev. (217): 56−67.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s