Sampingan

Optimalisasi Peran Mahasiswa dan Organisasi Kampus dalam Mengawal Kebijakan Kampus *)

Oleh : Farid Dimyati **)

Siapa Mahasiswa?

     Mahasiswa berasal dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”, kedua kata yang bergabung membentuk satu kata yang bermakna lebih luas. Maha berarti agung atau besar, dan siswa berarti orang yang sedang belajar. Kedua kata ini yang kemudian bersatu menjadi sebuah kata baru yaitu mahasiswa, menurut UU Perguruan Tinggi No 12 Tahun 2012 mengartikan mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang perguruan tinggi (Bab I ps.1 [15]), yaitu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi (Bab I ps.1 [6]. Dengan demikian mahasiswa adalah sekelompok masyarakat intelektual yang bertanggungjawab atas ilmu yang dimilikinya sesuai dengan asas-asas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa sebagai kaum “minoritas” didalam masyarakat mempunyai peran dan tanggungjawab lebih karena sisi intelektualitasnya. Mahasiswa dituntut untuk dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada dimasyarakat sesuai ketrampilan disiplin ilmu yang dimiliki. Identitas itulah yang menjadikan mahasiswa mempunyai bentuk tanggungjawab sosial, tanggungjwab moral dan sebagainya.

Peran Mahasiswa dalam konteks sejarah ke-Indonesia-an

    Sejarah terbentuknya bangsa ini tidak luput dari peran pemuda yang saat itu memang terwakili oleh kaum-kaum terpelajar mahasiswa. Kebangkitan nasional yang merupakan babak awal sejarah perjuangan kaum terpelajar merupakan fakta sejarah yang tidak dapat terdustakan. Soetomo sebagai seorang mahasiswa kedokteran STOVIA adalah sosok terpelajar era 1910-an yang merupakan penggerak awal menuju panggung kebebasan negeri ini. Boedi Oetomo sebagai organisasi kaum terpelajar menjadi barometer perjuangan saat itu. Kaum-kaum terpelajar (mahasiswa) bersatu padu untuk menjadi agent of change sesungguhnya. Pada era 1920-an muncul tokoh-tokoh terpelajar seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dan sebagainya yang kemudian hari membawa perubahan besar pada bangsa ini. Pada era 1960-an ada pula tokoh-tokoh intelektual baru seperti Nurcholis Madjid, Rahman Tolleng, Gie dan sebagainya. Pada era ini sisi semangat idelisme mahasiswa kembali bergelora pasca kemerdekaan yang mengalami penurunan. Munculah era dimana saat itu muncul tokoh fenomenal yaitu Soe Hok Gie. Tepatnya pada tahun 1966 merupakan tonggak baru peran mahasiswa sebagai kaum terdidik yang turut andil dalam menentukan arah kebijakan bangsa ini. Kekuatan pemerintah dengan mengandalkan kekuatan militernya menjadikan mahasiswa dengan pemerintah terjadi lobi-lobi politik yang manis, para aktivis yang “menggadaikan” idealismenya pada kemudian hari akan menjadi mitra baik pemerintah. Berlanjut pada era 1970-an peran mahasiswa dipersempit gerakannya melalui kebijakan pemerintah yaitu penerapan NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) dan BKK (Badan Koordinasi Kampus) yang menjadikan senjata pemerintah dalam menikam para aktivis mahasiswa. Mahasiswa yang berani melanggar akan mendapat sanksi akademik yang berat, bahkan jeruji besi pun tak luput menghantuinya. Era 1980-an merupakan masa-masa sulit mahasiswa dalam bergerak untuk turut andil dalam mengawal kebijakan pemerintahan, wajar jika era ini merupakan era dimana gerakan mahasiswa seolah-olah mati kutu, mahasiswa hanya diperbolehkan bergerak dalam bidang disiplin ilmunya masing-masing. Pada era 1990-an peran mahasiswa kembali muncul ke panggung, diakhiri dengan gerakan besar-besaran yaitu pada tahun 1998 dimana mahasiswa bersama masyarakat menuntut sebuah reformasi pemerintahan.

Bagaimana bentuk peran mahasiswa sesungguhnya?

     Mahasiswa sebagai kaum yang terdidik merupakan sekumpulan komunitas yang tergabung dalam masyarakat luas. Ciri khas mahasiswa yang mampu bersikap kritis, ilmiah dan idealis kerap kali mempresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu :

1)      Sebagai penyampai kebenaran (agent of social control)

2)      Sebagai agen perubahan (agent of change)

3)      Sebagai generasi penerus masa depan (iron stock)

     Mahasiswa dituntut untuk berperan lebih baik, tidak hanya bertanggungjawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib dan mengembang tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai – nilai moralitas dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran mahasiswa dalam dunia kampusnya unutk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan kampus yang harmonis serta juga kehidupan diluar kampus.

   Mahasiswa tidak dapat menjalankan peran itu sendiri tanpa ikut dakam sebuah perhimpunan organisasi. Diperlukan sebuah wadah untuk menyalurkan peran-peran diatas. Salah satu organisasi kampus yang tepat sebagai wadah ini adalah Badan Eksekutif Mahasiswa. BEM sebagai organisasi intra kampus yang paling strategis dalam mengawal sebuah kebijakan, baik kebijakan dalam lingkup sempit yaitu birokrasi kampus maupun birokrasi pemerintahan negara secara luas. Peran BEM tidak dapat terwujud secara nyata apabila didalamnya tidak didukung dengan kinerja yang nyata pula. Kinerja yang sinergis diantara para jajaran pengurus maupun mitra seperti UKM –UKM yang ada mutlak diperlukan. 

Pada tulisan ini akan dibahas satu persatu fungsi strategis mahasiswa melalui wadahnya yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa,

1)      Agent of Social Control

    Anies Baswedan seorang tokoh intelektual, memposisikan mahasiswa sebagai government opposition, mahasiswa memang sudah selayaknya sebagai pengontrol dan pengawas kebijakan pemerintahan. Mahasiswa bukan sebuah objek eksekusi kebijakan, namun sebagai pengontrol kebijakan. Ketika sebuah kebijakan kampus tidak berpihak kepada para mahasiswa, maka sudah selayaknya BEM berdiri paling depan untuk mengawal kebijakan tersebut. BEM harus mampu menjembatani kepentingan mahasiswa dengan kepentingan birokrasi kampus, apa yang diinginkan oleh mahasiswa mampu disampaikan dengan baik kepada birokrasi yang ada, begitupun sebaliknya. Government opposition dalam arti luas bukan sekedar sebagai “musuh” berpolitik namun sebagai “mitra” untuk menjalankan pembangunan. Birokrasi kampus maupun pemerintah tidak bisa menjalankan sebuah pembangunan tanpa sumbangsih pemikiran dan kerja nyata elemen mahasiswa, sejarah telah membuktikan bahwa peran mahasiswa dalam sebuah pembangunan mutlak diperlukan.

2)      Agent of Change

    Agent of change diartiakan sebagai agen pembawa perubahan, agen perubahan disini tidak diartikan sedemikain sempit bahwa mahasiswa yang terus-terusan turun ke jalan meneriakan yel-yel anti pemerintahan sudah dapat diakatakan sebagai agent of change, namun disini yang akan kita kupas adalah arti dari agent of change sesungguhnya yaitu bagaiamana seorang mahasiswa mampu menggerakan dan menjabat ‘tangan-tangan” yang ada disampingnya untuk turut andil berbuat demi kemajuan ke arah yang lebih baik. BEM sebagai wadah untuk “mengeplang” jiwa kepemimpinan para jajarannya mutlak memerlukan sebuah program dimana tujuan agent of change yang sesungguhnya dapat terwujud. Mahasiswa harus diajak untuk serentak bergerak membawa perubahan walaupun sekecil apapun itu. Ketika BEM sudah mampu menggerakan semua “tangan-tangan” mahasiswa maka layak disebut sebagai agent of change (kader pembawa perubahan).

3)      Iron Stock

    Mahasiswa merupakan kader-kader intelektual yang siap atau tidak siap akan menangani persoalan negeri ini dimasa datang. Untuk mampu menjalankan amanah yang ada dimasa depan tersebut, mahasiswa harus menempuh jalan tersebut dengan tidak mudah. Wadah organisasi mutlak diperlukan karena hanya di organisasilah hal-hal untuk menagani sebuah permasalahan umum dapat diselesaikan bersama-sama. BEM sebagai bentuk miniatur dari sebuah pemerintahan negara merupakan wadah awal untuk belajar bertata negara dengan baik. BEM harus serta merta berlatih bagaimana berpolitik yang baik, bagaimana dengan cermat dan cerdas mampu mengawal kebijakan kampus. BEM harus mempunyai bargainning position dimata birokrasi kampus. Kekuatan tawar menawar untuk menangani sebuah permasalahan yang ada di kampus harus ada. Jangan sampai BEM tidak mempunyai kekuatan tawar dimata birokrasi karena efek ketika hal itu terjadi adalah tidak adanya sinergitas untuk membawa kampus mau diarahkan kemana.

 

*) disampaikan dalam kuliah umum pada tanggal 22 November 2013

**) Mahasiswa S1 Jurusan Peternakan di Fakultas Peternakan Unsoed

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s