Kearifan Lokal untuk Menunjang Proses Pembangunan Berkelanjutan

Oleh : Farid Dimyati

Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

 

Kearifan Lokal

      Negara Republik Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Karenanya macam-macam suku bangsa di Indonesia memperkaya khazanah nusantara dengan keberagaman budaya dan adat istiadat suku bangsa tersebut. Ada sekitar 300 suku dengan dialektika bahasa sekitar 4000 bahasa. Setiap suku mempunyai adat istiadat yang berbeda, hal ini juga dapat dipengaruhi oleh letak geografis. Suku Batak yang berada di Sumatera Utara tentu mempunyai adat istiadat yang berbeda dengan  Suku Asmat yang berada di Papua. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Suku-suku tersebut ada yang tinggal di pesisir pantai, perkotaan bahkan pedalaman. Tidak hanya dalam suatu negara, suatu kelompok, suatu suku, ataupun suatu masyarakat pasti memiliki pemimpin. Menurut Miftha Thoha dalam bukunya Perilaku Organisasi (1983 : 255), pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya. Seorang pemimpin adat adalah orang yang sangat disegani di dalam struktur masyarakat, sehingga petuah-petuah yang diberikan akan selalu dipercaya oleh pengikutnya. Hal ini karena pemimpin adat dianggap sebagai orang suci, orang-orang yang terpilih oleh alam, sehingga apa saja yang diucapkan adalah sebuah kebenaran. Masyarakat cenderung tidak menganalisis secara keilmuan karena pada waktu itu metode kelimuan belum berkembang secara luas. Ibaratnya adalah suara pemimpin adat adalah suara alam.

     Masyarakat adat adalah masyarakat yang sangat patuh terhadap pemimpinnya. Mereka sangat menghormati untuk mengikuti setiap petuah pemimpinnya. Ajaran yang berkembang di masyarakat adat bahwa manusia harus selalu hidup berdampingan dengan alam, dapat kita lihat hampir di setiap suku yang ada di Indonesia. Setiap suku mengajarkan tentang pentingnya kearifan lokal guna keberlangsungan kehidupan semesta. Manusia tidak dapat hidup tanpa alam begitupun alam juga tidak dapat hidup tanpa campur tangan manusia. Sistem yang sudah terintegarsi ini sudah dikenal sejak zaman manusia purba. Manusia purba bertahan hidup di alam dengan cara memanfaatkan yang ada di alam baik tumbuhan maupun hewan. Maka tak khayal jika sistem kepercayaan yang pertama muncul pada peradaban manusia adalah Dinamisme ( kepercayaan kepada alam bahwa alam yang memberi kehidupan). Hal ini tidak dapat kita anggap salah pada zamannya karena cara berpikir mereka pada saat itu adalah bahwa alamlah yang senantiasa memberikan penghidupan kepada mereka, alam menyediakan tumbuhan dan hewan untuk dikonsumsi. Pada zaman itu, manusia dan alam hidup berdampingan secara damai. Hubungan manusia dan alam ini dapat dikatakan sebagai bentuk kearifan lokal, Antariksa(1) menyatakan bahwa kearifan lokal yang dalam bahasa inggris disebut (local wisdom) merupakan unsur bagian dari tradisi-budaya masyarakat suatu bangsa, yang muncul menjadi bagian-bagian yang ditempatkan pada tatanan fisik bangunan (arsitektur) dan kawasan (perkotaan) dalam geografi kenusantaraan sebuah bangsa, dari penjelasan beliau dapat dilihat bahwa kearifan lokal merupakan langkah penerapan dari tradisi yang diterjemahkan dalam artefak fisik. Hal terpenting dari kearifan lokal adalah proses sebelum implementasi tradisi pada artefak fisik, yaitu nilai-nilai dari alam untuk mengajak dan mengajarkan tentang bagaimana ‘membaca’ potensi alam dan menuliskannya kembali sebagai tradisi yang diterima secara universal oleh masyarakat, khususnya dalam berarsitektur. Nilai tradisi untuk menselaraskan kehidupan manusia dengan cara menghargai, memelihara dan melestarikan alam lingkungan. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin adanya penyempurnaan arti dan saling mendukung, yang intinya adalah memahami bakat dan potensi alam tempatnya hidup dan diwujudkannya sebagai tradisi.

Kesinambungan antara Kearifan Lokal dengan Pembangunan Berkelanjutan

   Apabila kita berbicara mengenai pembangunan berkelanjutan (sustainable development), maka kepedulian utamanya adalah menjawab tantangan tentang pemerataan pemenuhan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa mendatang. Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan tidak hanya diartikan semata sebagai pembangunan yang mencoba mempertemukan kebutuhan dimasa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk dapat memenuhi kebutuhannya, tetapi juga harus dimaknai sebagai suatu pendekatan holistic, komprehensif, dan integratif. Seperti kita ketahui, paradigma pembangunan berkelanjutan ini adalah gagasan mutakhir dalam melihat pembangunan berdasarkan hasil kesepakatan para pemimpin dunia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brazilia tahun 1972. Sebelumya, pembangunan lebih diukur dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) yang telah dan sedang dilaksanakan.

       Deklarasi Universal Keberagaman Budaya lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa “keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam”. Dengan demikian “pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual”, dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan,UNESCO(2).

   Pembangunan adalah cermin sebuah peradaban. Peradaban yang tinggi akan menghasilkan pembangunan yang luar biasa, baik dari pembangunan fisik maupun non fisik. Pembangunan fisik dapat terlihat dari gedung-gedung peninggalan, pembangunan non fisik ( sumber daya manusia) dapat dilihat dari sastra-sastra yang telah dibuat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai peradaban yang arif. Bangsa yang mampu menjaga kearifan lokal untuk menunjang pembangunan berkelanjutan. Bangsa yang tidak meninggalkan kehancuran-kehancuran di muka bumi. Bangsa yang mampu mewariskan tempat tinggal yang nyaman, yang mampu hidup berdampingan dengan alam.

    Sebagaimana dipahami, dalam beradaptasi dengan lingkungan, masyarakat memperoleh dan mengembangkan suatu kearifan yang berwujud pengetahuan atau ide, norma adat, nilai budaya, aktivitas, dan peralatan sebagai hasil abstraksi mengelola lingkungan. Seringkali pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat dijadikan pedoman yang akurat dalam mengembangkan kehidupan di lingkungan pemukimannya.

     Keanekaragaman pola-pola adaptasi terhadap lingkungan hidup yang ada dalam masyarakat Indonesia yang diwariskan secara turun temurun menjadi pedoman dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan dapat ditumbuhkan secara efektif melalui pendekatan kebudayaan. Jika kesadaran tersebut dapat ditingkatkan, maka hal itu akan menjadi kekuatan yang sangat besar dalam pengelolaan lingkungan. Dalam pendekatan kebudayaan ini, penguatan modal sosial, seperti pranata sosialbudaya, kearifan lokal, dan norma-norma yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup penting menjadi basis yang utama.

        Seperti kita ketahui adanya krisis ekonomi dewasa ini, masyarakat yang hidup dengan menggantungkan alam dan mampu menjaga keseimbangan dengan lingkungannya dengan kearifan lokal yang dimiliki dan dilakukan tidak begitu merasakan adanya krisis ekonomi, atau pun tidak merasa terpukul seperti halnya masyarakat yang hidupnya sangat dipengaruhi oleh kehidupan modern. Maka dari itu kearifan lokal penting untuk dilestarikan dalam suatu masyarakat guna menjaga keseimbangan dengan lingkungannya dan sekaligus dapat melestarikan lingkungannya. Berkembangnya kearifan lokal tersebut tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor yang akan mempengaruhi perilaku manusia terhadap lingkungannya.

       Salah satu bentuk kearifan lokal adalah mitos. Pada zaman dahulu, mitos digunakan oleh pemimpin adat dengan tujuan agar masyarakat menghargai alam. Bagi masyarakat yang melanggarnya akan mendapatkan sebuah malapetaka. Contoh sebuah mitos yang berkembang di Pegunungan Kerinci Jambi akan sebuah mahluk jadi-jadian berupa siluman harimau adalah bukti nyata bahwa mitos mampu menjaga kelestarian alam Kepercayaan yang berkembang bahwa siapa saja yang menebang pohon secara liar di pegunungan akan mendapat malapetaka berupa diterkam seekor harimau masih dipercaya sampai sekarang. Hal ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang berkembang di salah satu daerah di Indonesia. Ada pula mitos tentang hewan keramat, mitos juga berlaku pada hewan-hewan tertentu yang dianggap keramat, seperti ular, kucing, burung gagak, burung hantu, dan hewan lainnya. Dengan adanya mitos ini kelangsungan hidup hewan tersebut lebih terjamin, karena masyarakat yang menganggap keramat hewan ini. Mengingat satwa adalah bagian dari jaringan ekosistem yang turut pula memainkan perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai contoh mitos Dewi Sri yang menjelma sebagai ular sawah. Mitos ini ada jauh sebelum ilmu pengetahuan tentang lingkungan berkembang. Masyarakat petani mengkeramatkan ular sawah karena dianggap sebagai jelmaan dari Dewi Sri yang membawa keberkahan dan kesuburan sawah. Lewat kaca ilmu pengetahuan adanya ular sawah tersebut akan membantu petani dalam mengendalikan hama terutama tikus sawah. Kotorannya juga dapat menjadi pupuk untuk menjaga kesuburan tanah.

     Berkaitan dengan hal tersebut, ada satu strategi yang dapat dikembangkan untuk mencapai ciri keberlanjutan dari sebuah pembangunan, yaitu memaksimalkan peran pemimpin-pemimpin. Pemimpin dalam konteks ini bukan hanya pemimpin yang berasal dari kalangan birokrasi, politisi maupun kelompok-kelompok swadaya masyarakat, tetapi pemimpin dalam konteks individu yang memiliki kapasitas untuk mengarahkan dan mendorong perubahan paradigma pembangunan.

     Memaksimalkan peran pemimpin dalam pengelolaan pembangunan keberlanjutan di Indonesia sangat penting. Mengapa peran pemimpin menjadi sangat penting? Jawabanya dapat dilihat secara jelas apabila kita berefleksi pada sejarah panjang budaya masyarakat Indonesia. Pemimpin adalah tokoh kunci yang dominan dan paling signifikan dalam mengakselerasi perubahan sosial.

     Kepemimpinan didasarkan pada otoritas spiritual dan kekuasaan administratif. Oleh para pemimpin, dua hal tersebut dikombinasikan dan saling disesuaikan melalui berbagai cara di dalam upaya mereka mendapatkan kekuasaan. Namun demikian, salah satu faktor tambahan yang penting bagi seseorang yang ingin menjadi pemimpin adalah dukungan dari negara. Kepemimpinan dalam konteks pembangunan berkelanjutan adalah menggunakan karaketer kepemimpinan yang menggunakan pendekatan holistik dan integratif dalam implementasinya. Pembangunan berkelanjutan di sini sangat mengutamakan keterkaitan antara manusia dan alam dalam perspektif jangka panjang. Sedangkan hingga saat ini kerangka jangka pendeklah yang mendominasi pemikiran para pengambil keputusan ekonomi.

       Pemimpin non formal seperti pemimpin adat merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan berkelanjutan ditinjau dari aspek budaya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, pengaruh pemimpin adat dalam memegang teguh prinsip-prinsip mitosnya yang notabene sangat dipercaya oleh kalangan masyarakat pengikutnya mampu dijadikan pedoman dalam pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan yang diharapakan berorientasi tidak hanya masa sekarang, sangat berkesinambungan jika faktor-faktor kearifan lokal tetap terjaga. Sumber daya alam sebagai bahan dasar pembangunan akan terjaga stabilitasnya, masyarakat cenderung tidak bersikap serakah dan tamak dalam menjalankan program-program pembangunan, karena faktor kearifan lokal sebagai bentuk filterisasinya bekerja dengan baik dan sistematis. Maka dari itu sudah selayaknya kita untuk selalu mengedepankan kearifan lokal guna menunjang pembangunan berkelanjutan.

Referensi

1)Antariksa, 2009b. Peradaban dalam Sejarah Perkotaan. http://antariksaarticle.blogspot.com. (diakses 20 Juli 2013)

2)Konferensi PBB Tentang Pembangunan Berkelanjutan

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s