Piye Kabare?Esih enak jamanku toh??

soeharto    Soeharto,presiden RI ke-2 di Republik ini, sosok yang disegani karena kediktatorannya bak seperti raja Jengis Khan dari Mongolia sang penahluk dunia. Presiden yang dikenal murah senyum itu meninggalkan kesan manis dan pahit bagi bangsa ini. Beliau menjabat sebagai penguasa negara berlambang garuda selama 32 tahun, waktu yang terbilang cukup lama untuk kepemimpinan era modern, sebelas duabelas lamanya dengan Presiden legendaris Kuba, Fidel Castro.

       Kembali ke judul artikel diatas, akhir-akhir ini banyak poster yang terpampang di pinggir jalan maupun di truk dan bus kota bertuliskan “piye kabare??esih enak jamanku toh??” poster bergambar dengan tangan melambai dan senyum mengibas dipipinya chiri khas Presiden Soeharto, mengingatkan kembali kepada kita akan rindunya masyarakat terhadap era kepemimpinan Soeharto. Memang tidak dipungkiri Soeharto bukanlah dewa yang tanpa cacat melakukan sebuah tindakan kesalahan, di era itu tidak sedikit juga kebijakan-kebijakan beliau yang terkadang tidak diterima oleh sebagian kalangan, terutama kalangan terpelajar. Lepas dari itu semua, fakta adalah fakta, kerinduan akan sosok kepemimpinan Soeharto yang tegas, berwibawa, dan pro rakyat kecil  menjadikan sosok beliau akhirnya dibanding-bandingkan dengan presiden-presiden setelahnya yang cenderung stagnansi dalam proses pembangunan bangsa ini. Tak heran jika beliau mendapat gelar ‘Bapak Pembangunan’, gelar yang menurut saya layak disandang oleh beliau karena jasa-jasanya terhadap bangsa ini terlepas dari catatan-catatan hitamnya. Satu yang harus kita ingat dalam sejarah panjang kepemimpinan Soeharto, pada tahun 1984 bangsa kita mampu berswasembada pangan terutama beras, Indonesia berhasil  memproduksi beras sebanyak 25,8 juta ton. Angka yang sangat fantastis waktu itu. Bahkan Indonesia pernah menghibahkan 1 juta ton gabah ke negara-negara Afrika yang mengalami kelaparan, karena prestasi yang mengguncang dunia tersebut, pada tanggal 14 November 1985 Presiden Soeharto diundang secara terhormat untuk berpidato di depan Konferensi ke-23 FAO di Roma. Penghargaan tertinggi dalam bidang pangan tersebut menjadikan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, sejak itulah bangsa ini lebih disegani bahkan mulai mendapat julukan ‘Macan Asia’ oleh negara-negara tetangga.

      Kenangan-kenangan manis terlepas dari buku hitam itulah yang menjadikan masyarakat sekarang rindu akan era kepemimpinan beliau, reformasi yang diharapkan akan jauh menjadi lebih baik tapi apa daya fakta menunjukan tidak demikian. Korupsi tetap merajalela, bahkan terlihat sangat parah karena media sekarang juga sangat bebas dan fulgar, seolah-olah tidak ada sekat sama sekali. Keamanan dan ketentraman jauh dari yang diharapkan, terorisme terjadi dimana-mana, wikipedia pada tahun 2012 merilis daftar kejadian terorisme di negeri ini yang cukup mengejutkan, hampir disetiap tahun dari tahun 2000-2012 ada kejadian terorisme, pada era Soeharto nyaris tidak ada sama sekali, hal ini yang menjadikan masyarakat semakin rindu era Soeharto karena keamanan dan ketentramannya. Itulah sekelumit cerita kecil apa yang sudah dicatatkan oleh Soeharto dalam buku sejarah perjalanan bangsa Indonesia, tak ayal jika sekarang banyak poster bergambarkan Soeharto dengan tulisan “piye kabare?esih enak jamnku toh?” berkeliaran dimana-mana karena rakyat sudah jenuh dengan tokoh-tokoh yang ada sekarang yang notabene tidak jauh lebih baik dari Soeharto. Masyarakat kembali merindukan sosok pemimpin yang tegas, berwibawa dan pro terhadap rakyat kecil, semoga Soeharto versi baik akan muncul dikemudian hari, amiinn.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s