Kakek Tua Penjual Koran

             Gerimis rintik-rintik menemani sore itu di sepanjang jalan kota Purwokerto, lebih tepat di Jalan HR Boenyamin kawasan kampus Unsoed Grendeng. Tampak seorang kakek tua berjalan di pinggiran jalan dengan muka yang tampak lelah menenteng beberapa tumpukan koran dan majalah, tak lain dan tak bukan sepertinya beliau adalah seorang penjual koran, dengan plastik putih yang membungkus koran-koran tersebut tampaklah kakek itu berusaha untuk melindungi koran-korannya agar tidak basah terkena reruntuhan nikmat Illahi yang turun dari atap langit. Jalannya begitu bersemangat walaupun tampak terlihat lelah sekali, mungkin seharian ini entah sudah berapa kilometer jarak yang beliau tempuh untuk menjajakan koran-korannya. Saya yakin yang ada dipikiran beliau seandainya memang beliau mempunyai anak dan istri adalah pulang dengan membawa setumpuk uang guna menyambung hari esok yang masih penuh misteri untuk seorang kakek tua penjual koran beserta keluarganya. Mungkin untuk para bangsawan atau kasta beroda empat tidak lagi memikirkan besok masih bisa sarapan pagi, karena uang di rekening sepertinya masi cukup untuk menyambung hidup dalam sebulan atau bahkan setahun kedepan, namun untuk seorang kakek tua penjual koran ketika hari ini koran-korannya masih menumpuk tebal itu tandanya besok bisa jadi harus puasa menahan lapar.

            Terkadang memang dunia perkotaan sungguh miris dan jahat, café-café berjajar rapi disepanjang jalan, hotel-hotel berdiri megah untuk singgah para kasta “roda empat”, tapi seringkali kita lebih terpesona akan semua itu ketimbang melihat sisi lain sebuah perkotaan , ketika kita melihat sekilas seolah-olah dunia ini tidak adil, namun ketika kita renungkan bersama inilah kehendak Tuhan yang tidak bisa kita bantah, Dia lebih tahu apa yang dia kehendaki dan apa saja yang ada di bumi ini. Kisah seorang kakek tua penjual koran diatas semoga menjadi refleksi kita bersama alangkah dunia ini sangat berwarna, ada yang tinggal “cung” apa yang dia lihat langsung dapat memilikinya tanpa berpikir panjang, namun ada pula yang hanya ingin sebungkus rames dia berpikir panjang apakah anak istri di rumah sudah makan apa belum. Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya adalah sebuah sikap yang paling tepat. Saya salut akan kerja keras engkau kakek penjual koran, semoga Yang Maha Kuasa selalu memberkahimu kek..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s