Gusdur Seorang Humanis, Bukan Pluralis

       Siapa yang gatau sosok Gusdur?? Yaa, sepertinya orang dinegeri ini tidak ada yang tidak tahu siapa itu Gusdur, Seorang Guru Bangsa negeri nan makmur gemah ripah loh jinawi, Indonesia. Berangkat dari seorang ulama NU, beliau kemudian berkiprah di kancah politik tanah air. Tahun 1999 beliau diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia ke – 4 menggantikan Bj. Habibie melalui sidang MPR. Kiprah beliau dalam menjalani hari – harinya penuh dengan kontroversial namun tetap santun dan wibawa, dengan guyonannya yang khas ” gitu aja kok repot “, beliau sangat dicintai oleh masyarakat negeri ini.

      Sosok yang sederhana dan penuh kehangatan, menjadikan beliau tidak hanya dikenal dan dicintai oleh umat muslim, namun beberapa lintas agama pun sangat menyegani beliau, bahkan umat Kong hu cu menyematakan gelar kenabian kepada beliau. Karna jasa beliaulah umat Kong hu cu dinegeri ini merasa aman dan tenteram dalam menjalani kehidupan sehari – harinya termasuk dalam hal ibadah. Beliaulah yang meresmikan agama Kong hu cu sebagai salah satu agama resmi negara, beliau juga yang meresmikian Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional, berangkat dari situlah Gusdur sangat disegani dan dicintai oleh etnis Tionghoa negeri ini. Mereka menganggap bahwa Gusdur lah Bapak Pluralis Indonesia, hal ini karena jasa – jasa beliau yang sangat memperhatikan dan menghargai keberagaman, menurut Gusdur ” semua manusia itu mahluk Tuhan jadi sudah sewajarnya kita harus saling menghargai dan menghormati “, Inayah wahid dalam paparannya di Purwokerto ( 17 / 11 ), mengatakan bahwa ” bapak itu bukan seorang Pluralis, tapi lebih tepatnya Humanis “, sepertinya memang benar stetement tersebut, Gusdur adalah orang yang sangat memanusiakan manusia, beliau sangat dekat dengan siapapun tanpa membedakan suku, agama, dan ras, dimata Gusdur semua manusia itu sama saja, sama – sama mahluk Tuhan yang sudah selayaknya kita hormati hak – hak asasinya termasuk soal keyakinan. Sudah sepantasnya kita dapat meniru ” tindak tanduk ” beliau dalam memaknai sebuah perbedaan yang menjadi chiri khas negeri ini, Pancasila tetap menjadi ideologi yang tak dapat dirubah sampai kapanpun, Pancasila akan tetap mengakar ke anak cucu kita kelak. Hidup Rakyat Indonesia!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s