Reggae, Marley, dan Perlawanan!

” Bangkit. Pertahankan hak-hakmu” (The Wailers)

Bagi penikmat seni khususnya musik, tentunya sudah tak asing lagi jika mendengar genre musik yang satu ini “reggae”, genre musik yang identik dengan legendaris musik dunia, siapa lagi kalau bukan Bob Marley, dengan salah satu lagunya yang sangat fenomenal “no woman no cry”.

Sumber tertulis mengatakan bahwa reggae berasal dari kata-kata Toots and The Maytals yang menyanyikan lagu ini (Do The Reggae) pada tahun 1967. Irama musik reggae lebih pelan dibandingkan dengan rock steady dan irama tambur musik reggae pun dipelankan menjadi apa yang disebut skank 1). Patrick Hilton dalam Campbell 2), menyatakan bahwa puisi-puisi kebudayaan bersumber dari sejarah dan pengalaman orang – orang yang mengembangkannya, demikian juga dengan musik calypso dan reggae, yang merupakan produk – produk pengalaman historis bangsa Afrika yang ada di Karibia. Sementara itu, medium ekspresi protes dan sentimen orang-orang Afrika di Amerika juga telah menemukan beberapa bentuknya, seperti isi dan semangat musik jazz dan blues yang kami temukan pada kaum negro Amerika (Afro – Amerika). Sama halnya dengan reggae masa kini di Jamaika yang merefleksikan pesan yang sama, yaitu sebuah reaksi terhadap eksploitasi dan penindasan atas orang – orang Afrika di benua baru.

Musik reggae tumbuh karena semangat anti perbudakan yang memang sudah memuncak dikalangan warga kulit hitam Jamaika, mereka sudah mengalami masa-masa perbudakan selama berabad-abad lamanya. Kebuntuan itulah yang menyebabkan mereka pada akhirnya mulai menyatukan pemikiran dan sikap dalam melawan rezim perbudakan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui jalur kesenian yaitu musik reggae.

Perkembangan Musik Reggae

Tahun 1968 adalah tahun dimana musik reggae mulai berkembang pesat di tanah Jamaika, pada periode perkembangan reggae inilah massa mulai mempertegas kembali pengaruh kuat nilai – nilai budaya di dalam perkembangan kepercayaan diri masyarakat. Reggae telah membuka peluang -peluang baik pada level kebudayaan, politik, maupun teknologi. Reggae juga merupakan sumber keberanian dan dukungan moral yang tak habis – habisnya, sedemikian rupa sehingga seniman -seniman reggae dapat memasuki arena internasional dan memaksakan kepada dunia sebuah ekspresi orang-orang tertindas yang telah dianggap rendah (inferior) secara kultural maupun secara artistik 3).

Perkembangan musik reggae yang demikian pesat, tidak terlepas dari tangan emas Bob Marley dan grup musiknya The Wailers. Marley selalu menyerukan kepada banyak orang agar “memerdekakan diri sendiri dari perbudakan mental, tak seorangpun kecuali diri kita yang dapat memerdekakan pikiran kita” (emancipate yourself from mental slavery, none but ourselves can free our minds). Lagu-lagu marley-lah yang kian membakar semangat para kaum dreadlock 4) muda untuk semakin gigih dalam melawan segala bentuk penindasan di Jamaika bahkan di seluruh muka bumi. Musiknya semakin dikenal luas ke seluruh dunia, bahkan hampir di seluruh benua Afrika musik reggae ala marley adalah lagu wajib perjuangan untuk melawan bentuk perbudakan di benua hitam tersebut.

Get up, stand up, stand up for your right, get up, stand up don’t give up to fight !

Bangun, berdiri, pertahankan hak-hakmu, berdirilah jangan berhenti untuk melawan ( lagu “Get up Stand up”). Lirik tersebut adalah bentuk provokasi Marley dalam membakar semangat kaum muda kulit hitam untuk tetap berjuang mempertahankan hak-hak nya sebagai manusia, Marley merupakan sosok legendaris musik reggae yang tak kenal lelah untuk selalu menyerukan kepada dunia bahwa perbudakan terhadap kulit hitam adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang tak beradab. Marley dan salah satu sahabatnya, Peter Tosh selalu menyerukan ” you can fool some people sometimes, but can’t fool all the people all the time “ (kau dapat membodohi beberapa orang sesekali, tetapi tidak bisa membodohi semua orang setiap saat). Bahkan dalam lagu ” I Shot The Sheriff “, telah mampu menarik banyak penggemar simpatik dari seluruh dunia, karena simbolisme menentang penguasa tiran tidak hanya digemari oleh orang -orang kulit hitam saja, tetapi juga oleh seniman-seniman budaya kulit putih seperti Mick Jagger  dan John Lennon.

Bangsa-bangsa kulit hitam semakin gigih dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaannya, terlebih dengan propaganda Marley melalui musik reggae nya telah membuka mata dunia bahwa perbudakan adalah sebuah bentuk kekejaman kemanusiaan. Hingga pada akhirnya kemerdekaan atas segala bangsa benar – benar terwujud diatas muka bumi ini tanpa adanya perbedaan warna kulit. Berikut adalah salah satu penggalan pidato yang disampaikan oleh Kaisar Haile Selassie (raja bangsa kulit hitam) di Amerika Serikat pada tahun 1964 sebagai bentuk perjuangan untuk kemerdekaan bangsa-bangsa kulit hitam Afrika. Beberapa kalimat dalam pidato ini dijadikan lirik oleh Bob Marley dalam lagu ” war “

until the philosophy which hold one race superior and another inferior

is finnaly and permanently discredited and abandoned

until there are no longer

first class and second class citizens of any nation, 

until the basic human rights are equally

guarented to all without regard to race

until that day, the dream of lasting peace

Daftar Rujukan

1)  2) 3) Dikutip dari buku “ Rasta dan Perlawanan” karya Horace Campbell (1989)

 4) Dreadlock adalah kaum berambut gimbal, diidentikan sebagai pengikut rastafari dan penggemar musik reggae

 

Sangkan Paraning Dumadi dalam Konsep ke-Islam-an

Oleh : Farid Dimyati *

Konsep hidup dalam filsafat jawa sudah ada sejak ratusan tahun silam, bahkan tidak diketahui sejak kapan pemikiran para filsuf jawa memaknai sebuah arti kehidupan. Sebelum islam datang ke tanah jawa, orang jawa memang sudah menganut kepercayaan monotheisme. Mereka beranggapan bahwa alam dunia dan seisinya merupakan sebuah karya cipta akan dzat yang tak dapat dicapai oleh kasat mata inderawi.

Konsep kepercayaan akan adanya sang pencipta inilah yang membuat orang jawa zaman dahulu bertanya-tanya tentang hakekat kehidupan yang sesungguhnya, bahwa memang dunia ini ada yang menciptakan dan mengaturnya. pada akhirnya mereka semakin terdorong untuk mengetahui sebenarnya siapakah dzat yang mengatur alam semesta ini, Suriasumantri (2003) menyatakan pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

Setelah melakukan pencarian akan hakekat hidup itulah, pada akhirnya masyarakat jawa jaman dahulu menemukan sebuah falsafah “sangkan paraning dumadi” yang secara garis besar artinya adalah dari manakah manusia datang dan ke mana tujuannya, ke manakah arah hidupnya, apa artinya hidup, untuk apa manusia hidup, bagaimana setelah manusia meninggal. Itulah beberapa pertanyaan setiap manusia yang mencari hakekat hidup sesungguhnya. Ajaran tersebut itulah yang sampai sekarang banyak diterapkan pada ajaran tasawuf/sufisme yang banyak berkembang di tanah jawa sejak kedatangan islam sampai sekarang.

Ajaran sangkan paraning dumadi secara maknawi tidak bertentangan dengan ajaran islam, bahkan hal tersebut disebutkan sangat jelas di dalam Al Quran Suroh Al An’am ayat 162 tentang ke-tauhid-an seorang hamba akan hakekat hidup harus bersandar hanya pada sang pencipta alam semesta yaitu Allah SWT, ayat tersebut berbunyi

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(qul, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin)

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” ( Q.S. Al An’am : 162).

Nampak nyata bahwa hakekat hidup seorang manusia tidak dapat terlepas dari arti sangkan paraning dumadi, bahwa siapa aku?apa tujuan hidupku?apa artinya hidup? secara gamblang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya diatas, yang dimaknai bahwa hidup matinya seorang manusia semat-mata hanya untuk Allah azza wa jalla sang pemilik kerajaan langit dan bumi. Berdasarkan uraian diatas, bahwa konsep sangkan paraning dumadi memang sebenarnya termaktub di dalam ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sejak ribuan tahun silam, hanya saja karena konsep ke-bahasa-an yang berbeda inilah yang seringkali ada anggapan bahwa konsep filsafat jawa ini dianggap sebagai penyebab ke-tidakmurni-an ajaran islam yang sebenarnya.

* mantan mahasiswa nakal

Kaderisasi di Tanah ‘Kerbau’, Kemanakah Dirimu?

Oleh : Farid Dimyati*

 

           Kampus peternakan adalah kampus yang syarat akan gemerlapnya dunia kemahasiswaan. Jam kerja bagaikan tak berlaku di kampus ini, siang malam geliat aktivitas mahasiswa terlihat di setiap sudut kampus, komplek utara dan selatan setiap saat dipenuhi oleh wajah-wajah sang pembaharu yang dalam bahasa antah berantah khas dunia mahasiswa sering disebut “agent of change”. Di sela-sela kesibukan kuliah dengan lapisan praktikum yang maha dahsyat padatnya, tentulah menjadi tantangan tersendiri bagi sekelompok mahluk yang konon dinamakan aktivis mahasiswa. Mereka harus berjibaku dalam membagi waktu antara kuliah kelas, praktikum lapang, serta kegiatan kemahasiswaan. Tentunya sering pulang malam dan sedikit tidur adalah ciri khas sekelompok manusia-manusia “aneh” ini. Label mahasiswa tukang protes, sering bolos, dan banyak “bacot” adalah hal yang biasa didengar oleh mereka. Namun semua anggapan yang terkesan miring itu tentunya tidak benar, karena menurut penulis sendiri, orang-orang seperti merekalah yang justru mampu menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dengan kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya, mereka bukan mahasiswa yang hanya duduk manis mendengarkan paparan dosen yang sangat apik di ruang kelas, namun di luar kelas pun mereka anggap sebagai ruang belajar yang sangat nyata untuk kebermanfaatan perkembangan karakter mereka.

            Deskripsi diatas hanyalah sebuah pengantar untuk membedah kasuistik yang katanya ada sedikit ketidaklancaran proses kaderisasi di kampus “bubalus” (read: peternakan). Proses pemira (pemilihan raya) yang terkesan tidak berjalan lancar dengan sepinya pendaftar capres dan cawapres BEM, menggelitik penulis yang memang pernah mengeyam pendidikan di kampus coklat ini. Kabar burung yang sempat terdengar ditelinga penulis, konon katanya salah satu penyebab sepinya pendaftar adalah tentang syarat standar nilai IPK  yang cukup tinggi. Standar IPK capres-cawapres yang dipatok 2.75 sebenarnya layak untuk syarat pencalonan sekelas presiden mahasiswa. Presiden mahasiswa yang memang dijadikan tolak ukur sebuah konsep kepemimpinan mahasiswa memang sudah selayaknya tidak terkesan menjadi sekumpulan mahasiswa “bodoh”, walaupun memang definisi sebuah kebodohan setiap orang berbeda-beda, termasuk penulis juga tidak sepakat jikalau definisi mahasiswa yang pintar atau pun yang bodoh hanya diukur dari tinggi rendahnya nilai IPK ( silahkan baca teori Multiple Intelligence karya Prof. Howard Gardner psikolog Universitas Harvard ). Akan tetapi perlu diingat bahwa secara umum definisi tingkat kebodohan oleh kebanyakan mahasiswa dan masyarakat adalah tinggi rendahnya nilai IPK. Kita tidak bisa secara egoistis memaksakan teori multiple intelligence untuk dipahami dan diyakini oleh semua orang, Maka dari itu sudah selayaknya seorang aktivis juga sepatutnya memiliki nilai IPK yang tinggi. Memang, sebuah kegiatan kemahasiswaan tidak ada kaitannya dengan nilai IPK, karna memang wilayahnya yang berbeda dan didalam kegiatan riil kemahasiswaan bukan ditanya IPK-nya berapa, tetapi pertanyaan tentang apa yang sudah anda perbuat untuk mahasiswa, apa yang sudah anda perbuat untuk masyarakat, itulah sebuah pertanyaan yang wajib dijawab oleh kalangan penggerak (read:aktivis), namun sekali lagi perlu diingat bahwa nilai akademik tidak terlepas dari baju seorang mahasiswa, akademik dan kemahasiswaan adalah sebuah paket yang tidak bisa terlepas satu sama lain. Seandainya memang syarat IPK untuk nyapres yang tadinya 2.75 tetap baku menjadi dasar persyaratan dan tetap tidak ada yang mendaftar? muncul pertanyaan menggelitik dibenak penulis, berapakah rata-rata nilai IPK para aktivis di tanah fapet sekarang? Apakah tidak ada yang mencapai 2.75? seandainya memang demikian, rasa-rasanya perlu ada reformasi budaya organisasi secara besar-besaran di kampus coklat ini agar kalangan aktivis bukan termasuk kategori mahasiswa “bodoh’. Pembahasan yang cukup panjang ini baru mengupas satu alasan kenapa sepinya pendaftar capres-cawapres, solusinya memang tak ada pilihan lain kecuali harus menurunkan standar IPK untuk persyaratan, sehingga proses regenerasi di lembaga eksekutif tetap berjalan.

            Kemudian, seandainya nilai IPK bukan sebagai alasan utama sepinya pendaftar, yang paling logis untuk dianalisis adalah adanya indikasi pengkaderan dan budaya organisasi yang kurang baik, egosentrisme kepemilikan kader seharusnya dibuang jauh-jauh dibenak aktivis mahasiswa, dunia kemahasiswaan bukan dunia persaingan destruktif antar lembaga mahasiswa, yaitu manakala kader terbaik sengaja tidak dimunculkan hanya karena alasan ketakutan kader tersebut akan meninggalkan ‘rumah” yang telah membesarkannya, hal itu sungguh sikap yang kurang terpuji oleh seorang aktivis, justru semestinya dibalik, kader-kader terbaiknya dimajukan untuk menjadi capres-cawapres, karena hakekatnya pertarungan politik mahasiswa secara sehat adalah ketika mereka semakin ramai memajukan para kader terbaiknya untuk bertarung dalam ajang pemilihan raya, karena salah satu indikator adanya dinamika kampus adalah manakala terjadi pertarungan positif dalam meraih kursi tertinggi yaitu presiden BEM. Sungguh sebuah proses pengkaderan yang amat buruk seandainya alasan diatas benar adanya sebagai salah satu penyebab sepinya pendaftar calon presiden dan wakil presiden mahasiswa. Pada akhirnya sesuai judul artikel diatas, kemanakah kaderisasi di tanah ‘kerbau’?, sepertinya menurut sudut pandang penulis memberi judul yang layak jikalau melihat dinamika organisasi kampus coklat demikian adanya, beberapa anjuran yang ditawarkan penulis untuk pembenahan antara lain, 1)  aktivis harus bisa menyeimbangkan kegiatan akademik dengan organisasi agar nilai IPK tidak termasuk dalam kategori rendah, 2 ) budaya egosentrisme harus segera dihilangkan di masing-masing organisasi, jadikan BEM sebagai lembaga pemerintahan mahasiswa yang wajib dihormati oleh semua organisasi dibawah koordinasinya, 3) pola pengkaderan harus ada pembenahan, mahasiswa bukan kader yang hanya milik organisasinya, disisi lain ia adalah kader terbaik kampus juga yang patut diapresiasi dan sudah selayaknya didorong untuk semakin berkembang, bukan sebaliknya yaitu dikurung dengan tidak boleh keluar sarang, 4) kembalikan semangat persatuan di ranah fapet karna kitorang semua saudara, sudah semestinya pemilihan raya dijadikan sebuah pertarungan politik mahasiswa yang positif bukan sebagai ajang penjegalan antar lembaga mahasiswa, apalagi dijadikan ajang penjegalan kadernya yang ingin berkembang. Salam cinta dari ujung kandang. Hidup Mahasiswa Peternakan!!

Ket : * Mantan mahasiswa nakal

Sampingan

Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 sebagai Upaya dalam

Menuju Kemandirian Pangan di Indonesia *

Oleh : Farid Dimyati **

Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 (PSDSK-2014) merupakan salah satu dari 21 program utama Departemen Pertanian terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik (Deptan, 2010: 1). Program nasional untuk swasembada daging sapi sebenarnya merupakan ketiga kalinya yang dicanangkan oleh pemerintah, namun program ini mengalami ketidakberhasilan, sehingga pada tahun 2010 pemerintah mencanangkan kembali program swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2014. Melalui kebijakan ini, ketergantungan atas impor sapi dan impor daging sapi diperkecil dengan meningkatkan potensi sapi dalam negeri. Sasarannya, pada tahun 2014 mendatang impor sapi dan daging sapi hanya 10 persen dari total kebutuhan konsumsi masyarakat.

Untuk mencapai sasaran program swasembada daging sapi dan kerbau pada tahun 2014, berbagai kebijakan dan program telah dicanangkan oleh pemerintah melalui lembaga yang menaunginya yaitu Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Program-program tersebut secara umum bertujuan untuk menambah populasi sapi dan produktivitas sapi, dengan mengembangkan potensi persapian Indonesia (nasional) yang sekarang ada.

Kebijakan penambahan populasi dan produktivitas sapi bertujuan untuk menambah kemampuan penyediaan (produksi) daging sapi nasional. Jumlah daging sapi yang harus disediakan, ditentukan oleh kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk secara nasional. Sementara kebutuhan konsumsi daging sapi nasional ditentukan oleh jumlah penduduk dan konsumsi daging sapi per kapita masyarakat Indonesia. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani, maka kebutuhan daging sapi nasional juga akan cenderung semakin meningkat (Dwiyanto, 2008).

Ketersediaan daging sapi, baik impor maupun lokal, sangat terkait dengan ketahanan pangan nasional. Ketersediaan daging sapi sama pentingnya dengan ketersediaan beras, gula, jagung, telur, unggas, kedelai dan sebagainya yang merupakan kebutuhan manusia yang paling asasi. Pada kondisi krisis dan kritis kebutuhan lain masih dapat ditunda, tetapi kebutuhan ini tidak bisa ditawar-tawar. Terpenuhinya kebutuhan daging sebagai bahan pangan bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, tetapi terkait dengan harkat dan martabat kemanusiaan kita dalam perspektif sosial. Lebih dari itu kebutuhan daging untuk memenuhi konsumsi protein hewani sangat terkait dengan kesehatan dan kecerdasan bangsa. Sulit rasanya membayangkan suatu bangsa akan maju dan berdiri tangguh jika tidak memiliki pijakan yang kuat dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan (Said, 2012).

Hasil sementara sensus ternak Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011 memperlihatkan bahwa ternak sapi potong cukup melimpah dimana jumlah sapi potong mencapai 14,43 juta, kerbau 1,27 juta, dan sapi perah 574 ribu ekor. Sehingga jumlah keseluruhan sekitar 16,3 juta ekor. Berdasarkan road map pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014, ditargetkan penyediaan daging sapi produksi lokal sebesar 420,3 ribu ton (90%) dan dari impor sapi bakalan setara daging dan impor daging sebesar 46,6 ribu ton (10%) (Blue Print P2SDS 2014). Berdasarkan data dari BPS tahun 2011 tersebut, maka swasembada daging tahun 2014 dapat terwujud.

Data populasi sapi dan kerbau yang terus meningkat dari tahun ke tahun harus selalu diimbangi dengan kinerja nyata dari beberapa program yang telah dicanangkan oleh pemerintah guna menunjang swasembada daging pada tahun 2014. Program penyelamatan sapi betina produktif harus benar-benar dijalankan, hal ini guna meningkatkan jumlah populasi dimasa yang akan datang, dimana ketika jumlah populasi semakin meningkat dari tahun ke tahun maka secara otomatis ketersediaan daging akan mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Walaupun sudah ada undang-undang yang melarang pemotongan sapi betina produktif, fakta di lapangan menunjukkan kasus tersebut masih banyak terjadi. Sekitar 200.000 ekor sapi betina produktif dipotong setiap tahunnya. Ketika melihat data yang ada memang hal ini menjadi sebuah ancaman serius, namun jika 200.000 ekor sapi betina produktif tersebut dapat diselamatkan maka akan diperoleh tambahan anak 147.000 ekor/ tahun atau menambah produksi daging 14.700 t/tahun bila satu ekor sapi setara dengan 100 kg daging. Dengan target swasembada 400.000 ton daging maka pelarangan pemotongan sapi betina produktif akan mendukung pasokan daging 3,68%. Oleh karena itu, kebijakan penyelamatan betina produktif dipandang tepat (Priyanto, 2011).

Selain program penyelamatan sapi betina produktif, pemetaan wilayah pengembangan usaha (sumber pertumbuhan baru) dengan pola pembibitan maupun penggemukan diperlukan untuk mendukung peningkatan populasi ternak. Usaha pembibitan disesuaikan dengan daya dukung padang penggembalaan. Wilayah yang potensial untuk pengembangan usaha pembibitan adalah Nusa Tenggara Timur (746.660,33 ha), Kalimantan Timur (726.798,52 ha), Nanggroe Aceh Darussalam (382.736,15 ha), Kalimantan Selatan (294.098,95 ha), Sulawesi Selatan (157.460,39 ha), dan Sulawesi Tengah (154.126 ha) yang memiliki area padang rumput terluas (Ditjenak, 2008). Pengembangan dan pemanfaatan padang penggembalaan merupakan alternatif pendukung mempercepat pencapaian swasembada daging sapi, khususnya pembibitan yang dikelola oleh masyarakat (pemeliharaan secara ekstensif). Meles (2009) menyatakan, pengembangan sapi potong perlu mempertimbangkan potensi sumber daya yang dimiliki daerah, seperti area penggembalaan atau area pertanian, populasi ternak, sumber daya manusia, teknologi tepat guna, sarana pendukung, dan potensi pasar.

Melihat beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah seperti upaya dalam penyelamatan sapi betina produktif yang terus dijalankan dan pengembangan sentra-sentra peternakan sapi potong di daerah-daerah yang potensial, maka tidak mustahil jika program swasembada daging sapi dan kerbau akan terwujud pada tahun 2014. Ketika swasembada daging terwujud maka kemandirian pangan hewani asal ternak akan terwujud pula.

*) diikutkan dalam lomba essai nasional UNPAD November 2013

**) Mahasiswa S1 Jurusan Peternakan di Fakultas Peternakan Unsoed

Daftar Rujukan

Deptan (Departemen Pertanian). 2010. Blue Print Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014. Departemen Pertanian Republik Indonesia. 122 hlm.

Said, S. 2012. Peningkatan Populasi dan Mutu Genetik Ternak Indonesia Melalui Aplikasi Bioteknologi Reproduksi dalam Rangka Mendorong Percepatan Swasembada Daging dan Susu Nasional. Pusat Penelitian Bioteknologi – LIPI.

Dwiyanto, K. 2008. Pemanfaatan Sumber Daya Lokal dan Inovasi Teknologi  dalam Mendukung Pengembangan Sapi Potong di Indonesia. Pengembangan Inovasi Pertanian. I(3), 2008: 173-188.

Blue Print Program Percepatan Swasembada Daging Sapi 2014. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI.

Priyanto, Dwi. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong dalam Mendukung Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014. Balai Penelitian Ternak Bogor.

Ditjennak (Direktorat Jenderal Peternakan). 2008. Statistik Peternakan. Ditjennak, Jakarta.

Meles, W. 2009. Strategi Pencapaian Swasembada Daging Sapi Melalui Penanganan Gangguan Reproduksi dan Pemanfaatan Limbah Pertanian. Econ. Rev. (217): 56−67.

Sampingan

Optimalisasi Peran Mahasiswa dan Organisasi Kampus dalam Mengawal Kebijakan Kampus *)

Oleh : Farid Dimyati **)

Siapa Mahasiswa?

     Mahasiswa berasal dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”, kedua kata yang bergabung membentuk satu kata yang bermakna lebih luas. Maha berarti agung atau besar, dan siswa berarti orang yang sedang belajar. Kedua kata ini yang kemudian bersatu menjadi sebuah kata baru yaitu mahasiswa, menurut UU Perguruan Tinggi No 12 Tahun 2012 mengartikan mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang perguruan tinggi (Bab I ps.1 [15]), yaitu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi (Bab I ps.1 [6]. Dengan demikian mahasiswa adalah sekelompok masyarakat intelektual yang bertanggungjawab atas ilmu yang dimilikinya sesuai dengan asas-asas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa sebagai kaum “minoritas” didalam masyarakat mempunyai peran dan tanggungjawab lebih karena sisi intelektualitasnya. Mahasiswa dituntut untuk dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada dimasyarakat sesuai ketrampilan disiplin ilmu yang dimiliki. Identitas itulah yang menjadikan mahasiswa mempunyai bentuk tanggungjawab sosial, tanggungjwab moral dan sebagainya.

Peran Mahasiswa dalam konteks sejarah ke-Indonesia-an

    Sejarah terbentuknya bangsa ini tidak luput dari peran pemuda yang saat itu memang terwakili oleh kaum-kaum terpelajar mahasiswa. Kebangkitan nasional yang merupakan babak awal sejarah perjuangan kaum terpelajar merupakan fakta sejarah yang tidak dapat terdustakan. Soetomo sebagai seorang mahasiswa kedokteran STOVIA adalah sosok terpelajar era 1910-an yang merupakan penggerak awal menuju panggung kebebasan negeri ini. Boedi Oetomo sebagai organisasi kaum terpelajar menjadi barometer perjuangan saat itu. Kaum-kaum terpelajar (mahasiswa) bersatu padu untuk menjadi agent of change sesungguhnya. Pada era 1920-an muncul tokoh-tokoh terpelajar seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dan sebagainya yang kemudian hari membawa perubahan besar pada bangsa ini. Pada era 1960-an ada pula tokoh-tokoh intelektual baru seperti Nurcholis Madjid, Rahman Tolleng, Gie dan sebagainya. Pada era ini sisi semangat idelisme mahasiswa kembali bergelora pasca kemerdekaan yang mengalami penurunan. Munculah era dimana saat itu muncul tokoh fenomenal yaitu Soe Hok Gie. Tepatnya pada tahun 1966 merupakan tonggak baru peran mahasiswa sebagai kaum terdidik yang turut andil dalam menentukan arah kebijakan bangsa ini. Kekuatan pemerintah dengan mengandalkan kekuatan militernya menjadikan mahasiswa dengan pemerintah terjadi lobi-lobi politik yang manis, para aktivis yang “menggadaikan” idealismenya pada kemudian hari akan menjadi mitra baik pemerintah. Berlanjut pada era 1970-an peran mahasiswa dipersempit gerakannya melalui kebijakan pemerintah yaitu penerapan NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) dan BKK (Badan Koordinasi Kampus) yang menjadikan senjata pemerintah dalam menikam para aktivis mahasiswa. Mahasiswa yang berani melanggar akan mendapat sanksi akademik yang berat, bahkan jeruji besi pun tak luput menghantuinya. Era 1980-an merupakan masa-masa sulit mahasiswa dalam bergerak untuk turut andil dalam mengawal kebijakan pemerintahan, wajar jika era ini merupakan era dimana gerakan mahasiswa seolah-olah mati kutu, mahasiswa hanya diperbolehkan bergerak dalam bidang disiplin ilmunya masing-masing. Pada era 1990-an peran mahasiswa kembali muncul ke panggung, diakhiri dengan gerakan besar-besaran yaitu pada tahun 1998 dimana mahasiswa bersama masyarakat menuntut sebuah reformasi pemerintahan.

Bagaimana bentuk peran mahasiswa sesungguhnya?

     Mahasiswa sebagai kaum yang terdidik merupakan sekumpulan komunitas yang tergabung dalam masyarakat luas. Ciri khas mahasiswa yang mampu bersikap kritis, ilmiah dan idealis kerap kali mempresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu :

1)      Sebagai penyampai kebenaran (agent of social control)

2)      Sebagai agen perubahan (agent of change)

3)      Sebagai generasi penerus masa depan (iron stock)

     Mahasiswa dituntut untuk berperan lebih baik, tidak hanya bertanggungjawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib dan mengembang tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai – nilai moralitas dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran mahasiswa dalam dunia kampusnya unutk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan kampus yang harmonis serta juga kehidupan diluar kampus.

   Mahasiswa tidak dapat menjalankan peran itu sendiri tanpa ikut dakam sebuah perhimpunan organisasi. Diperlukan sebuah wadah untuk menyalurkan peran-peran diatas. Salah satu organisasi kampus yang tepat sebagai wadah ini adalah Badan Eksekutif Mahasiswa. BEM sebagai organisasi intra kampus yang paling strategis dalam mengawal sebuah kebijakan, baik kebijakan dalam lingkup sempit yaitu birokrasi kampus maupun birokrasi pemerintahan negara secara luas. Peran BEM tidak dapat terwujud secara nyata apabila didalamnya tidak didukung dengan kinerja yang nyata pula. Kinerja yang sinergis diantara para jajaran pengurus maupun mitra seperti UKM –UKM yang ada mutlak diperlukan. 

Pada tulisan ini akan dibahas satu persatu fungsi strategis mahasiswa melalui wadahnya yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa,

1)      Agent of Social Control

    Anies Baswedan seorang tokoh intelektual, memposisikan mahasiswa sebagai government opposition, mahasiswa memang sudah selayaknya sebagai pengontrol dan pengawas kebijakan pemerintahan. Mahasiswa bukan sebuah objek eksekusi kebijakan, namun sebagai pengontrol kebijakan. Ketika sebuah kebijakan kampus tidak berpihak kepada para mahasiswa, maka sudah selayaknya BEM berdiri paling depan untuk mengawal kebijakan tersebut. BEM harus mampu menjembatani kepentingan mahasiswa dengan kepentingan birokrasi kampus, apa yang diinginkan oleh mahasiswa mampu disampaikan dengan baik kepada birokrasi yang ada, begitupun sebaliknya. Government opposition dalam arti luas bukan sekedar sebagai “musuh” berpolitik namun sebagai “mitra” untuk menjalankan pembangunan. Birokrasi kampus maupun pemerintah tidak bisa menjalankan sebuah pembangunan tanpa sumbangsih pemikiran dan kerja nyata elemen mahasiswa, sejarah telah membuktikan bahwa peran mahasiswa dalam sebuah pembangunan mutlak diperlukan.

2)      Agent of Change

    Agent of change diartiakan sebagai agen pembawa perubahan, agen perubahan disini tidak diartikan sedemikain sempit bahwa mahasiswa yang terus-terusan turun ke jalan meneriakan yel-yel anti pemerintahan sudah dapat diakatakan sebagai agent of change, namun disini yang akan kita kupas adalah arti dari agent of change sesungguhnya yaitu bagaiamana seorang mahasiswa mampu menggerakan dan menjabat ‘tangan-tangan” yang ada disampingnya untuk turut andil berbuat demi kemajuan ke arah yang lebih baik. BEM sebagai wadah untuk “mengeplang” jiwa kepemimpinan para jajarannya mutlak memerlukan sebuah program dimana tujuan agent of change yang sesungguhnya dapat terwujud. Mahasiswa harus diajak untuk serentak bergerak membawa perubahan walaupun sekecil apapun itu. Ketika BEM sudah mampu menggerakan semua “tangan-tangan” mahasiswa maka layak disebut sebagai agent of change (kader pembawa perubahan).

3)      Iron Stock

    Mahasiswa merupakan kader-kader intelektual yang siap atau tidak siap akan menangani persoalan negeri ini dimasa datang. Untuk mampu menjalankan amanah yang ada dimasa depan tersebut, mahasiswa harus menempuh jalan tersebut dengan tidak mudah. Wadah organisasi mutlak diperlukan karena hanya di organisasilah hal-hal untuk menagani sebuah permasalahan umum dapat diselesaikan bersama-sama. BEM sebagai bentuk miniatur dari sebuah pemerintahan negara merupakan wadah awal untuk belajar bertata negara dengan baik. BEM harus serta merta berlatih bagaimana berpolitik yang baik, bagaimana dengan cermat dan cerdas mampu mengawal kebijakan kampus. BEM harus mempunyai bargainning position dimata birokrasi kampus. Kekuatan tawar menawar untuk menangani sebuah permasalahan yang ada di kampus harus ada. Jangan sampai BEM tidak mempunyai kekuatan tawar dimata birokrasi karena efek ketika hal itu terjadi adalah tidak adanya sinergitas untuk membawa kampus mau diarahkan kemana.

 

*) disampaikan dalam kuliah umum pada tanggal 22 November 2013

**) Mahasiswa S1 Jurusan Peternakan di Fakultas Peternakan Unsoed

Kearifan Lokal untuk Menunjang Proses Pembangunan Berkelanjutan

Oleh : Farid Dimyati

Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

 

Kearifan Lokal

      Negara Republik Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Karenanya macam-macam suku bangsa di Indonesia memperkaya khazanah nusantara dengan keberagaman budaya dan adat istiadat suku bangsa tersebut. Ada sekitar 300 suku dengan dialektika bahasa sekitar 4000 bahasa. Setiap suku mempunyai adat istiadat yang berbeda, hal ini juga dapat dipengaruhi oleh letak geografis. Suku Batak yang berada di Sumatera Utara tentu mempunyai adat istiadat yang berbeda dengan  Suku Asmat yang berada di Papua. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Suku-suku tersebut ada yang tinggal di pesisir pantai, perkotaan bahkan pedalaman. Tidak hanya dalam suatu negara, suatu kelompok, suatu suku, ataupun suatu masyarakat pasti memiliki pemimpin. Menurut Miftha Thoha dalam bukunya Perilaku Organisasi (1983 : 255), pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya. Seorang pemimpin adat adalah orang yang sangat disegani di dalam struktur masyarakat, sehingga petuah-petuah yang diberikan akan selalu dipercaya oleh pengikutnya. Hal ini karena pemimpin adat dianggap sebagai orang suci, orang-orang yang terpilih oleh alam, sehingga apa saja yang diucapkan adalah sebuah kebenaran. Masyarakat cenderung tidak menganalisis secara keilmuan karena pada waktu itu metode kelimuan belum berkembang secara luas. Ibaratnya adalah suara pemimpin adat adalah suara alam.

     Masyarakat adat adalah masyarakat yang sangat patuh terhadap pemimpinnya. Mereka sangat menghormati untuk mengikuti setiap petuah pemimpinnya. Ajaran yang berkembang di masyarakat adat bahwa manusia harus selalu hidup berdampingan dengan alam, dapat kita lihat hampir di setiap suku yang ada di Indonesia. Setiap suku mengajarkan tentang pentingnya kearifan lokal guna keberlangsungan kehidupan semesta. Manusia tidak dapat hidup tanpa alam begitupun alam juga tidak dapat hidup tanpa campur tangan manusia. Sistem yang sudah terintegarsi ini sudah dikenal sejak zaman manusia purba. Manusia purba bertahan hidup di alam dengan cara memanfaatkan yang ada di alam baik tumbuhan maupun hewan. Maka tak khayal jika sistem kepercayaan yang pertama muncul pada peradaban manusia adalah Dinamisme ( kepercayaan kepada alam bahwa alam yang memberi kehidupan). Hal ini tidak dapat kita anggap salah pada zamannya karena cara berpikir mereka pada saat itu adalah bahwa alamlah yang senantiasa memberikan penghidupan kepada mereka, alam menyediakan tumbuhan dan hewan untuk dikonsumsi. Pada zaman itu, manusia dan alam hidup berdampingan secara damai. Hubungan manusia dan alam ini dapat dikatakan sebagai bentuk kearifan lokal, Antariksa(1) menyatakan bahwa kearifan lokal yang dalam bahasa inggris disebut (local wisdom) merupakan unsur bagian dari tradisi-budaya masyarakat suatu bangsa, yang muncul menjadi bagian-bagian yang ditempatkan pada tatanan fisik bangunan (arsitektur) dan kawasan (perkotaan) dalam geografi kenusantaraan sebuah bangsa, dari penjelasan beliau dapat dilihat bahwa kearifan lokal merupakan langkah penerapan dari tradisi yang diterjemahkan dalam artefak fisik. Hal terpenting dari kearifan lokal adalah proses sebelum implementasi tradisi pada artefak fisik, yaitu nilai-nilai dari alam untuk mengajak dan mengajarkan tentang bagaimana ‘membaca’ potensi alam dan menuliskannya kembali sebagai tradisi yang diterima secara universal oleh masyarakat, khususnya dalam berarsitektur. Nilai tradisi untuk menselaraskan kehidupan manusia dengan cara menghargai, memelihara dan melestarikan alam lingkungan. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin adanya penyempurnaan arti dan saling mendukung, yang intinya adalah memahami bakat dan potensi alam tempatnya hidup dan diwujudkannya sebagai tradisi.

Kesinambungan antara Kearifan Lokal dengan Pembangunan Berkelanjutan

   Apabila kita berbicara mengenai pembangunan berkelanjutan (sustainable development), maka kepedulian utamanya adalah menjawab tantangan tentang pemerataan pemenuhan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa mendatang. Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan tidak hanya diartikan semata sebagai pembangunan yang mencoba mempertemukan kebutuhan dimasa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk dapat memenuhi kebutuhannya, tetapi juga harus dimaknai sebagai suatu pendekatan holistic, komprehensif, dan integratif. Seperti kita ketahui, paradigma pembangunan berkelanjutan ini adalah gagasan mutakhir dalam melihat pembangunan berdasarkan hasil kesepakatan para pemimpin dunia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brazilia tahun 1972. Sebelumya, pembangunan lebih diukur dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) yang telah dan sedang dilaksanakan.

       Deklarasi Universal Keberagaman Budaya lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa “keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam”. Dengan demikian “pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual”, dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan,UNESCO(2).

   Pembangunan adalah cermin sebuah peradaban. Peradaban yang tinggi akan menghasilkan pembangunan yang luar biasa, baik dari pembangunan fisik maupun non fisik. Pembangunan fisik dapat terlihat dari gedung-gedung peninggalan, pembangunan non fisik ( sumber daya manusia) dapat dilihat dari sastra-sastra yang telah dibuat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai peradaban yang arif. Bangsa yang mampu menjaga kearifan lokal untuk menunjang pembangunan berkelanjutan. Bangsa yang tidak meninggalkan kehancuran-kehancuran di muka bumi. Bangsa yang mampu mewariskan tempat tinggal yang nyaman, yang mampu hidup berdampingan dengan alam.

    Sebagaimana dipahami, dalam beradaptasi dengan lingkungan, masyarakat memperoleh dan mengembangkan suatu kearifan yang berwujud pengetahuan atau ide, norma adat, nilai budaya, aktivitas, dan peralatan sebagai hasil abstraksi mengelola lingkungan. Seringkali pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat dijadikan pedoman yang akurat dalam mengembangkan kehidupan di lingkungan pemukimannya.

     Keanekaragaman pola-pola adaptasi terhadap lingkungan hidup yang ada dalam masyarakat Indonesia yang diwariskan secara turun temurun menjadi pedoman dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan dapat ditumbuhkan secara efektif melalui pendekatan kebudayaan. Jika kesadaran tersebut dapat ditingkatkan, maka hal itu akan menjadi kekuatan yang sangat besar dalam pengelolaan lingkungan. Dalam pendekatan kebudayaan ini, penguatan modal sosial, seperti pranata sosialbudaya, kearifan lokal, dan norma-norma yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup penting menjadi basis yang utama.

        Seperti kita ketahui adanya krisis ekonomi dewasa ini, masyarakat yang hidup dengan menggantungkan alam dan mampu menjaga keseimbangan dengan lingkungannya dengan kearifan lokal yang dimiliki dan dilakukan tidak begitu merasakan adanya krisis ekonomi, atau pun tidak merasa terpukul seperti halnya masyarakat yang hidupnya sangat dipengaruhi oleh kehidupan modern. Maka dari itu kearifan lokal penting untuk dilestarikan dalam suatu masyarakat guna menjaga keseimbangan dengan lingkungannya dan sekaligus dapat melestarikan lingkungannya. Berkembangnya kearifan lokal tersebut tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor yang akan mempengaruhi perilaku manusia terhadap lingkungannya.

       Salah satu bentuk kearifan lokal adalah mitos. Pada zaman dahulu, mitos digunakan oleh pemimpin adat dengan tujuan agar masyarakat menghargai alam. Bagi masyarakat yang melanggarnya akan mendapatkan sebuah malapetaka. Contoh sebuah mitos yang berkembang di Pegunungan Kerinci Jambi akan sebuah mahluk jadi-jadian berupa siluman harimau adalah bukti nyata bahwa mitos mampu menjaga kelestarian alam Kepercayaan yang berkembang bahwa siapa saja yang menebang pohon secara liar di pegunungan akan mendapat malapetaka berupa diterkam seekor harimau masih dipercaya sampai sekarang. Hal ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang berkembang di salah satu daerah di Indonesia. Ada pula mitos tentang hewan keramat, mitos juga berlaku pada hewan-hewan tertentu yang dianggap keramat, seperti ular, kucing, burung gagak, burung hantu, dan hewan lainnya. Dengan adanya mitos ini kelangsungan hidup hewan tersebut lebih terjamin, karena masyarakat yang menganggap keramat hewan ini. Mengingat satwa adalah bagian dari jaringan ekosistem yang turut pula memainkan perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai contoh mitos Dewi Sri yang menjelma sebagai ular sawah. Mitos ini ada jauh sebelum ilmu pengetahuan tentang lingkungan berkembang. Masyarakat petani mengkeramatkan ular sawah karena dianggap sebagai jelmaan dari Dewi Sri yang membawa keberkahan dan kesuburan sawah. Lewat kaca ilmu pengetahuan adanya ular sawah tersebut akan membantu petani dalam mengendalikan hama terutama tikus sawah. Kotorannya juga dapat menjadi pupuk untuk menjaga kesuburan tanah.

     Berkaitan dengan hal tersebut, ada satu strategi yang dapat dikembangkan untuk mencapai ciri keberlanjutan dari sebuah pembangunan, yaitu memaksimalkan peran pemimpin-pemimpin. Pemimpin dalam konteks ini bukan hanya pemimpin yang berasal dari kalangan birokrasi, politisi maupun kelompok-kelompok swadaya masyarakat, tetapi pemimpin dalam konteks individu yang memiliki kapasitas untuk mengarahkan dan mendorong perubahan paradigma pembangunan.

     Memaksimalkan peran pemimpin dalam pengelolaan pembangunan keberlanjutan di Indonesia sangat penting. Mengapa peran pemimpin menjadi sangat penting? Jawabanya dapat dilihat secara jelas apabila kita berefleksi pada sejarah panjang budaya masyarakat Indonesia. Pemimpin adalah tokoh kunci yang dominan dan paling signifikan dalam mengakselerasi perubahan sosial.

     Kepemimpinan didasarkan pada otoritas spiritual dan kekuasaan administratif. Oleh para pemimpin, dua hal tersebut dikombinasikan dan saling disesuaikan melalui berbagai cara di dalam upaya mereka mendapatkan kekuasaan. Namun demikian, salah satu faktor tambahan yang penting bagi seseorang yang ingin menjadi pemimpin adalah dukungan dari negara. Kepemimpinan dalam konteks pembangunan berkelanjutan adalah menggunakan karaketer kepemimpinan yang menggunakan pendekatan holistik dan integratif dalam implementasinya. Pembangunan berkelanjutan di sini sangat mengutamakan keterkaitan antara manusia dan alam dalam perspektif jangka panjang. Sedangkan hingga saat ini kerangka jangka pendeklah yang mendominasi pemikiran para pengambil keputusan ekonomi.

       Pemimpin non formal seperti pemimpin adat merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan berkelanjutan ditinjau dari aspek budaya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, pengaruh pemimpin adat dalam memegang teguh prinsip-prinsip mitosnya yang notabene sangat dipercaya oleh kalangan masyarakat pengikutnya mampu dijadikan pedoman dalam pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan yang diharapakan berorientasi tidak hanya masa sekarang, sangat berkesinambungan jika faktor-faktor kearifan lokal tetap terjaga. Sumber daya alam sebagai bahan dasar pembangunan akan terjaga stabilitasnya, masyarakat cenderung tidak bersikap serakah dan tamak dalam menjalankan program-program pembangunan, karena faktor kearifan lokal sebagai bentuk filterisasinya bekerja dengan baik dan sistematis. Maka dari itu sudah selayaknya kita untuk selalu mengedepankan kearifan lokal guna menunjang pembangunan berkelanjutan.

Referensi

1)Antariksa, 2009b. Peradaban dalam Sejarah Perkotaan. http://antariksaarticle.blogspot.com. (diakses 20 Juli 2013)

2)Konferensi PBB Tentang Pembangunan Berkelanjutan

 

 

 

Piye Kabare?Esih enak jamanku toh??

soeharto    Soeharto,presiden RI ke-2 di Republik ini, sosok yang disegani karena kediktatorannya bak seperti raja Jengis Khan dari Mongolia sang penahluk dunia. Presiden yang dikenal murah senyum itu meninggalkan kesan manis dan pahit bagi bangsa ini. Beliau menjabat sebagai penguasa negara berlambang garuda selama 32 tahun, waktu yang terbilang cukup lama untuk kepemimpinan era modern, sebelas duabelas lamanya dengan Presiden legendaris Kuba, Fidel Castro.

       Kembali ke judul artikel diatas, akhir-akhir ini banyak poster yang terpampang di pinggir jalan maupun di truk dan bus kota bertuliskan “piye kabare??esih enak jamanku toh??” poster bergambar dengan tangan melambai dan senyum mengibas dipipinya chiri khas Presiden Soeharto, mengingatkan kembali kepada kita akan rindunya masyarakat terhadap era kepemimpinan Soeharto. Memang tidak dipungkiri Soeharto bukanlah dewa yang tanpa cacat melakukan sebuah tindakan kesalahan, di era itu tidak sedikit juga kebijakan-kebijakan beliau yang terkadang tidak diterima oleh sebagian kalangan, terutama kalangan terpelajar. Lepas dari itu semua, fakta adalah fakta, kerinduan akan sosok kepemimpinan Soeharto yang tegas, berwibawa, dan pro rakyat kecil  menjadikan sosok beliau akhirnya dibanding-bandingkan dengan presiden-presiden setelahnya yang cenderung stagnansi dalam proses pembangunan bangsa ini. Tak heran jika beliau mendapat gelar ‘Bapak Pembangunan’, gelar yang menurut saya layak disandang oleh beliau karena jasa-jasanya terhadap bangsa ini terlepas dari catatan-catatan hitamnya. Satu yang harus kita ingat dalam sejarah panjang kepemimpinan Soeharto, pada tahun 1984 bangsa kita mampu berswasembada pangan terutama beras, Indonesia berhasil  memproduksi beras sebanyak 25,8 juta ton. Angka yang sangat fantastis waktu itu. Bahkan Indonesia pernah menghibahkan 1 juta ton gabah ke negara-negara Afrika yang mengalami kelaparan, karena prestasi yang mengguncang dunia tersebut, pada tanggal 14 November 1985 Presiden Soeharto diundang secara terhormat untuk berpidato di depan Konferensi ke-23 FAO di Roma. Penghargaan tertinggi dalam bidang pangan tersebut menjadikan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, sejak itulah bangsa ini lebih disegani bahkan mulai mendapat julukan ‘Macan Asia’ oleh negara-negara tetangga.

      Kenangan-kenangan manis terlepas dari buku hitam itulah yang menjadikan masyarakat sekarang rindu akan era kepemimpinan beliau, reformasi yang diharapkan akan jauh menjadi lebih baik tapi apa daya fakta menunjukan tidak demikian. Korupsi tetap merajalela, bahkan terlihat sangat parah karena media sekarang juga sangat bebas dan fulgar, seolah-olah tidak ada sekat sama sekali. Keamanan dan ketentraman jauh dari yang diharapkan, terorisme terjadi dimana-mana, wikipedia pada tahun 2012 merilis daftar kejadian terorisme di negeri ini yang cukup mengejutkan, hampir disetiap tahun dari tahun 2000-2012 ada kejadian terorisme, pada era Soeharto nyaris tidak ada sama sekali, hal ini yang menjadikan masyarakat semakin rindu era Soeharto karena keamanan dan ketentramannya. Itulah sekelumit cerita kecil apa yang sudah dicatatkan oleh Soeharto dalam buku sejarah perjalanan bangsa Indonesia, tak ayal jika sekarang banyak poster bergambarkan Soeharto dengan tulisan “piye kabare?esih enak jamnku toh?” berkeliaran dimana-mana karena rakyat sudah jenuh dengan tokoh-tokoh yang ada sekarang yang notabene tidak jauh lebih baik dari Soeharto. Masyarakat kembali merindukan sosok pemimpin yang tegas, berwibawa dan pro terhadap rakyat kecil, semoga Soeharto versi baik akan muncul dikemudian hari, amiinn.

Kakek Tua Penjual Koran

             Gerimis rintik-rintik menemani sore itu di sepanjang jalan kota Purwokerto, lebih tepat di Jalan HR Boenyamin kawasan kampus Unsoed Grendeng. Tampak seorang kakek tua berjalan di pinggiran jalan dengan muka yang tampak lelah menenteng beberapa tumpukan koran dan majalah, tak lain dan tak bukan sepertinya beliau adalah seorang penjual koran, dengan plastik putih yang membungkus koran-koran tersebut tampaklah kakek itu berusaha untuk melindungi koran-korannya agar tidak basah terkena reruntuhan nikmat Illahi yang turun dari atap langit. Jalannya begitu bersemangat walaupun tampak terlihat lelah sekali, mungkin seharian ini entah sudah berapa kilometer jarak yang beliau tempuh untuk menjajakan koran-korannya. Saya yakin yang ada dipikiran beliau seandainya memang beliau mempunyai anak dan istri adalah pulang dengan membawa setumpuk uang guna menyambung hari esok yang masih penuh misteri untuk seorang kakek tua penjual koran beserta keluarganya. Mungkin untuk para bangsawan atau kasta beroda empat tidak lagi memikirkan besok masih bisa sarapan pagi, karena uang di rekening sepertinya masi cukup untuk menyambung hidup dalam sebulan atau bahkan setahun kedepan, namun untuk seorang kakek tua penjual koran ketika hari ini koran-korannya masih menumpuk tebal itu tandanya besok bisa jadi harus puasa menahan lapar.

            Terkadang memang dunia perkotaan sungguh miris dan jahat, café-café berjajar rapi disepanjang jalan, hotel-hotel berdiri megah untuk singgah para kasta “roda empat”, tapi seringkali kita lebih terpesona akan semua itu ketimbang melihat sisi lain sebuah perkotaan , ketika kita melihat sekilas seolah-olah dunia ini tidak adil, namun ketika kita renungkan bersama inilah kehendak Tuhan yang tidak bisa kita bantah, Dia lebih tahu apa yang dia kehendaki dan apa saja yang ada di bumi ini. Kisah seorang kakek tua penjual koran diatas semoga menjadi refleksi kita bersama alangkah dunia ini sangat berwarna, ada yang tinggal “cung” apa yang dia lihat langsung dapat memilikinya tanpa berpikir panjang, namun ada pula yang hanya ingin sebungkus rames dia berpikir panjang apakah anak istri di rumah sudah makan apa belum. Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya adalah sebuah sikap yang paling tepat. Saya salut akan kerja keras engkau kakek penjual koran, semoga Yang Maha Kuasa selalu memberkahimu kek..

Reuni Akbar 3 Dekade

      Mendengar kata reuni, yang terbesit dalam benak kita adalah berkumpul bersama kawan yang sudah tak lama beretemu,diisi dengan canda tawa riang gembira mengenang masa-masa indah di sekolah. Betapa indahnya masa sewaktu sekolah, seorang maestro pop Indonesia bahkan mengabadikannya lewat suara emasnya “masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah “. Itulah sepenggalan lagu yang dilantunkan oleh almarhum Chrisye.

       SD Negeri 2 Cikakak yang berada di kaki gunung merupakan pabrik manusia-manusia hebat, pejabat pemerintahan desa, para guru, wiraswastawan, pebisnis, dan bahkan mungkin kelak ada yang menjadi menteri bahkan presiden di republik ini. Mereka tersebar dimana-mana, ada yang menetap di desa dan ada pula yang merantau ke kota lain bahkan negeri orang. Mereka menjadi apa yang mereka jalani sekarang adalah tak luput dari mesin produksi SD kita tercinta. SD kita yang tahun ini kalau tidak salah menginjakan umurnya yang ke -30, tahun 1983-2013 sudah melahirkan ribuan manusia-manusia berilmu dan berbudi pekerti luhur. Umur yang tak lagi dikatakan muda, ibarat manusia adalah fase dimana kedewasaan hakiki mulai nampak.

    Kembali pada kata reuni, maksud dari penulis adalah mempunyai harapan kepada semua alumnus kelak kita akan berkumpul bersama, canda tawa bersama, mengenang masa-masa sewaktu makan es lilin secara bergantian tanpa rasa jijik karena yang ada dipikiran semasa kecil adalah kebersamaan dan persahabatan, sering bertengkar namun 5 menit kemudian baikan, mengenang masa dimana jauh dari kata persaingan, mengenang dimana tidak ada ambisi akan kekuasaan, itulah masa indah sewaktu kita sekolah di SD kita tercinta. Menanggapi kawan kita yang ada diperantauan tentang kegiatan apa yang akan dilakukan pasca lebaran, penulis ada harapan akan sebuah kegiatan bertajuk “Reuni Akbar 3 Dekade”. Dalam acara tersebut mengundang semua alumni SD Negeri 2 Cikakak, dari yang sudah beruban maupun yang masih berpakain putih abu-abu diperbolehkan mengikuti acara tersebut. Harapan penulis juga seandainya memang acara tersebut ada, dilakukan acara penggalangan dana guna kepentingan siswa-siswi SD sekarang, baik nanti diberikan dalam bentuk beasiswa pendidikan dapat diatur kemudian.

       Harapan besar acara tersebut dapat terselenggara, adik-adik kita yang sekarang sedang menempuh pendidikan di SD kita tercinta membutuhkan motivasi dan dukungan yang nyata guna mewujudkan generasi –generasi emas Desa Cikakak tercinta. Tulisan ini hanya sekedar saran untuk menjawab kawan kita diperantauan yang menanyakan tentang kegiatan apa yang akan dilakukan pasca lebaran. Semoga bermanfaat. Salam senyum untuk semuanya.

Posisi Pemuda dalam Politik Pilkades

Posisi Pemuda dalam Politik Pilkades

Oleh : Farid Dimyati 1)

 

         Bung Karno pernah berkata, “ Beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”. Itulah ungkapan betapa dahsyatnya peran pemuda dalam sejarah pembangunan bangsa, sehingga sangat patut2) sang proklamator sampai berkata demikian. Sejarah bangsa ini sangat erat sekali dengan peran pemuda, berawal dari organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908,  Sumpah Pemuda ditahun 1928, yang kemudian berlanjut pada tahun 1945 yaitu Kemerdekaan Republik Indonesia, sampai pada reformasi pada tahun 1998, peran pemuda lah yang selalu menjadi garda terdepan dalam  perubahan tatanan bangsa ini.

          Kembali pada judul artikel diatas, posisi pemuda dalam politik pilkades juga harus jelas. Posisi pemuda bukan sebagai lahan poltik praktis, namun harus sebagai agent of control3), semangat inilah yang harus tetap mengakar pada jiwa setiap pemuda. Pemuda seyogyanya jangan sampai menjadi jamak 4) , karena sudah jelas bahwa peran pemuda disini adalah sebagai kontrol sosial bukan malah sebaliknya yaitu sebagai tim sukses dari para calon kades. Pemuda harus mempunyai posisi tawar yang kuat dalam menghadapi manuver – manuver5) politik dari para calon kades, pemuda harus berani menjadi mediator antara warga dengan calon kades, mediasi dapat berupa kontrak komitmen atau bentuk lainnya. Penulis menyayangkan dalam rangkaian pilkades tidak ada debat para calon kades, seandainya rangkaian itu ada, momentum itulah yang sangat tepat untuk penandatanganan kontrak komitmen. Kontrak komitmen dapat berisikan janji dan sanksi yang akan dipikul jikalau kades yang terpilih nanti ingkar dari janji kampanyenya. Disitulah peran pemuda akan sangat terlihat sebagai kontrol sosial.

          Melihat fenomena pilkades kali ini, ada yang sedikit menarik penulis untuk lebih mengamatinya. Visi Misi yang diemban dari para calon kades masih kurang tersosialisasi kepada warga masyarakat. Gambar-gambar yang terpampang di pinggir-pinggir jalan hanya mengkampanyekan nomer urut peserta dan sedikit jargon-jargon6) sebagai daya tariknya. Seingat penulis hanya ada satu gambar yang sedikit memberikan gambaran ketika kelak terpilih menjadi kades baru. Penulis sangat mengapresiasi keberanian calon kades tersebut dalam  mengkampanyekan visi misinya, walaupun secara  juridis7) masih sangat lemah karena tidak ada kontrak komitmen sama sekali sebagai pengontrolnya. Akan sangat menarik jikalau pemuda sebagai agent of control berani membuat sebuah kontrak komitmen dengan para calon kades tersebut.

        Hakekat manusia yang tak luput dari kesalahan juga diakui oleh penulis, penulis berusaha seobjektif mungkin dalam memandang situasi dan kondisi pilkades kali ini, siapapun yang terpilih nanti semoga mampu  memajukan Desa Cikakak tercinta, dukungan dari masyarakat juga sangat diperlukan guna tercapai sinergitas antara pemimpin dan yang dipimpin. Semoga pilkades pada tanggal 1 Mei mendatang tetap tertib, lancar, dan kondusif. Amiiiiiinnn. Salam Semangat.

Ket : 1) Warga Desa Cikakak , 2) Patut = layak,pantas, 3)  Agent of Control = pengawal kebijakan, pengontrol,  4) Jamak = tim sukses, 5) Manuver = serangan, 6) Jargon = semboyan, yel-yel, 7) Juridis = hukum